Canang Adalah Musuh Orang Bodoh

Penulis : Admin BMI CJDW

Saya memperhatikan canang versi Bali, setelah ke sekian kalinya berkunjung ke Bali. Saya pertama ke Bali sekitar sebelum tahun 2005; sebelum saya berangkat ke Kalimantan; masih bekerja di RS. Halmahera Siaga QF – Bandung. Itu rumah sakit spesialis bedah orthopaedi, di bagian Rekam Medis (Medical Records). Saat pertama ke Bali itu, saya belum bisa memperhatikan hal tertentu. Kami satu tim yang berangkat masih fokus pada program kegiatan yang terselenggara oleh pihak rumah sakit.

Saya mulai ke Bali lagi di tahun 2019. Kali ini kegiatan pribadi (perusahaan sendiri); tujuannya mendapatkan buah manggis untuk kebutuhan ekspor manggis ke luar negeri; tujuan Hong Kong atau China. Baru sejak itulah saya memperhatikan banyak hal di Bali, termasuk canang.

Canang Adalah Musuh Orang Bodoh

Harga Canang

Saya sebelumnya pernah ada teman memberitahu; harga canang di Bali kisaran Rp. 2.000,00 – Rp. 4.000,00. Itu jika ingatan saya tidak keliru. Sesaat sebelum membuat tulisan ini, saya timbul rasa ingin tahu harga canang, lalu mencoba mencari di internet. Satu situs jual beli online saya saya buka; harga memang bermacam-macam; mulai dari Rp. 1.000,00, Rp. 1.500,00, Rp. 2.000,00, Rp. 2.500,00, Rp. 2.650,00, Rp. 4.000,00; itu yang kisaran di bawah harga lima ribuan rupiah. Tapi harga canang kisaran di atas sepuluh ribuan rupiah ada, bahkan di atas harga seratus ribuan rupiah juga ada.

Saya tidak tahu persis soal beda harga itu; tapi tentu kemungkinan besar berkaitan dengan materi untuk membuat; dan mungkin soal tingkat kesulitan pembuatannya. Hal menarik yang ingin saya bahas soal canang adalah nilai hebat luar biasa yang terkandung dari canang itu sendiri. Canang adalah bukti kecerdasan manusia.

Canang Adalah Musuh Orang Bodoh

Susunan Canang

Jika melihat bentuk canang; yang menjadi wadah umumnya terbuat dari janur. Bagian isi bisa berbeda-beda; tapi umumnya jelas ada susunan kelopak kembang tanpa tangkai; ada semacam rajangan/potongan bunga rampai juga. Dan isi lain sebagainya.

Mengutip dari sumber yang mudah; Wikipedia : Canang Sari, canang bisa berarti kitab hidup yang sudah tentu setara dengan sastrajenrahayuningrat pangruwat ing diyu dan sudah tentu tujuannya pasti indah.

Susunan canang sari, masih mengutip sumber yang sama (mungkin versi lengkap), terdiri dari :

1. Ceper, adalah alas dari sebuah canang yang memiliki bentuk segi empat.

2. Beras

3. Porosan, atau peporosan terbuat dari daun sirihkapur, dan jambe (gambir).

4. Jajan, tebu, dan pisang

5. Sampian Uras, atau juga sebutannya Duras; terbuat dari rangkaian janur yang tertata berbentuk bundar; biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai.

6. Bunga meletakkannya di atas sampian urasari. Penyusunan bunga berurut sebagai berikut; bunga berwarna putih tersusun di Timur; lalu bunga berwarna merah tersusun di Selatan; selanjutnya bunga berwarna kuning tersusun di Barat; dan bunga berwarna biru atau hijau tersusun di Utara; namun kembang rampai tersusun di tengah.

7. Kembang Rampai meletakkannya di atas susunan bunga. Bermacam-macam bunga; ada yang harum dan ada yang tidak berbau.

8. Lepa atau boreh miyik.

9. Minyak wangi atau miyik-miyikan.

Sebuah canang sari tersempurnakan dengan meletakkan sejumlah kepeng (uang logam) atau uang kertas, konon untuk menjadi esensi (sari) dari persembahan.

Canang Di Oto
Canang Di Beranda
Canang Di Pantai
Canang Di Pantai
Canang Di Pura
Canang Di Jalan
Canang Di Pantai

Canang Adalah Musuh Orang Bodoh

Ya! Tentu saja. Jelas. Canang adalah bukti kecerdasan manusia, maka sudah tentu hanya orang bodoh saja yang tidak bisa membuat canang. Lebih bodoh lagi jika kemudian orang tidak menyukai dan membenci canang.

Saya tidak perlu membahas canang dalam urusan keyakinan. Namun secara logis kita bisa melihat banyak kegunaan canang ini. Sesuai etimologinya, canang berarti tujuan yang indah. Dari bentuknya saja kita sudah bisa melihat; ada keindahan yang sangat jauh melampaui jika kita membandingkan dengan papan reklame yang berserakan tidak jelas penataannya. Canang jauh lebih indah jika membandingkan dengan poster-poster kampanye, poster-poster promosi barang jualan atau jasa layanan tertentu; yang menempel di dinding-dinding atau tiang-tiang di lingkungan tempat tinggal kita. Bahkan jika kita melihat melalui media elektronik dan internet pun, akan tampak jauh lebih indah dari pemandangan lain tersebut di atas; itu jika kita mau jujur mengakui.

Kegunaan lain, jika canang sudah tidak tampak segar; tentu saja canang tidak akan meracuni tanah. Secara alami berbagai bahan canang akan menjadi pupuk penyubur tanah. Bagaimana dengan bahan yang mengandung plastik pembungkus atau koin? Pertanyaan kita balikkan, berapa banyak canang menggunakan bahan seperti plastik, misalnya permen? Berapa banyak canang menggunakan koin? Apakah semua itu memang perlu membuangnya setelah canang menjadi layu? Tentu tidak. Permen kita masih bisa memakannya; koin kita masih bisa menggunakan untuk membeli barang, atau menggunakan ulang untuk canang selanjutnya jika memang koin tidak hilang.

Jadi berapa besar prosentase canang menjadi polutan? Silahkan Anda bisa menghitung sendiri dengan jujur.

Apalagi jika membandingkan dengan kebiasaan buruk orang-orang yang terbiasa menaruh sampah secara sembarangan di berbagai tempat. Tentu itu hal yang tidak bisa setara, perbandingan bumi dan langit; kecerdasan membuat canang versus kedunguan sejati hidup menyampah.

Secara ekonomi jelas juga. Setiap orang yang berkarya membuat canang bisa mendapatkan penghasilan dari penjualan. Orang akan membeli untuk menghiasi tempat-tempat atas berbagai motivasi, katakanlah untuk ritual.

Dan akhirnya, jika kebutuhan dan permintaan canang meningkat, sudah konsekuensi logisnya juga ada kebutuhan untuk melestarikan sumber daya bahan baku canang. Pertnaian, perkebunan dan pertamanan perlu peningkatan dalam berbagai skala.

Jadi jelas ya, canang adalah musuh orang bodoh.

Kategori: Artikel

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: